Pada Suatu Malam

Malam itu saya uring-uringan. Deadline tinggal dua hari lagi sementara pekerjaan yang harus diselesaikan masih banyak. Saya paling tidak suka perasaan yang muncul ketika pekerjaan belum selesai. Dan ini malam Minggu. Setelah tadi pagi terpaksa datang ke kantor, sekarang harus membawa pekerjaan kantor ke rumah pula karena hari Senin sudah harus dikirimkan ke Head Office.

Sebetulnya saya paling anti membawa pekerjaan kantor ke rumah, tapi mau bagaimana lagi. Saya lebih tidak suka kalau hari Minggu harus ke kantor. Hari Minggu itu waktu untuk bermalas-malasan. Maka, malam ini semua harus selesai. Terjaga sampai subuh pun saya tidak peduli asal besok bisa goler-goler di tempat tidur.

Selesai makan malam, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di depan laptop dan mematikan tivi. Saya bahkan tidak membuka aplikasi pemutar musik. Harus khusyuk dan fokus. Jangan buang-buang waktu biar besok bisa santai seharian tanpa gangguan.

Tiga jam berlalu. Saya berhenti sebentar untuk mengistirahatkan mata dan otak. Tinggal menunggu email dari seorang coworker, merapikan data dari dia, dan selesai. Semangat!, kata diri saya sendiri malam itu.

Saya pandangi jam dinding. Jam sebelas. Saya ingat belum sholat Isya. Kemudian saya bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Kretek kretek kretek kretek kretek.

Belum juga membuka pintu kamar mandi, saya terpaku, kemudian menajamkan telinga.

Suara apa barusan? Siapa? Dari mana? Cicak kah? Duh, jangan-jangan maling. Kamar saya ada di lantai dua dan paling pojok, menempel dengan bangunan sebelah.

Duh, baru ingat. Kemarin itu kan tetangga sebelah ada yang baru meninggal.

Mampus.

Saya memutuskan untuk tidak menghiraukan suara itu dan cepat-cepat mengambil air wudhu lalu sholat. Selesai sholat, saya mengintip keluar dari jendela. Tidak ada apa-apa. Tidak ada siapa-siapa. Langsung saja pintu kamar saya kunci dan saya kembali menghadap laptop.

Kretek kretek kretek kretek kretek, kretek kretek kretek.

Lagi. Kali ini irama bunyinya agak panjang dari sebelumnya. Duh, gusti.

“ADA BUNYI ANEH DI KAMARKUUUU. HELP!” Saya mengetik dengan membabi buta di kotak percakapan saya dengan seorang teman.

Saya menunggu balasan dari teman saya dengan cemas, deg-degan. Bales, please. Bales, please. Keringat dingin mulai mengalir membasahi muka saya. Tangan saya juga. Kepala saya mulai dipenuhi bayangan-bayangan mengerikan.

Kretek kretek kretek kretek kretek.

Irama bunyi tersebut kembali ke irama di awal tadi. Saya memandang kamar saya berkeliling dengan takut-takut. Tidak ada apa-apa. Kamar saya masih seperti yang saya lihat waktu pulang dari kantor tadi.

Duh, merinding beneran ini. Mana kamar sebelah lagi pulang kampung. Yang lain pasti sudah pada tidur, sebagian lagi belum kembali dari aktivitas bermalam minggu dengan pacarnya.

Kotak percakapan saya dengan teman tadi berkedip tanda ada balasan.

“HAYO LOOOHH. Awas tuh, di belakang kamu, Ti.”

Kampret!

“Asem kowe! WEDI TENANAN IKIIII. DOOOHHH.”

Kretek kretek kretek kretek kretek, kretek kretek kretek.

Nah kan! Irama bunyinya mirip dengan bunyi yang kedua tadi, yang agak panjang. Aneh ini aneh. Kenapa bunyinya berpola begini.

Angin dingin tiba-tiba saja menyapu tengkuk saya. Berkali-kali. Asem, makin merinding. Sumpah, saya tidak berani menengok-nengok ke belakang saya. Meja saya menghadap dinding sih. Plus, ada cermin besar di sana. Duh, feng shui kamar saya ini emang agak aneh. Padahal saya arsitek (Iya, saya arsitek yang malas menata kamar sendiri).

Takutnya, sudah ada perempuan berambut panjang dengan rambut putih berdiri di sana, sedang bercermin dan menyeringai seram kepada saya.

Atau anak kecil dan ibunya dengan wajah menyeramkan duduk di lantai di belakang kursi yang sedang saya duduki.

Atau tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundak saya (Saya ini lagi sendirian loh).

Atau tiba-tiba saja di kasur saya, guling saya berubah jadi… ADUH GA BERANI NGOMONGNYA.

Kretek kretek kretek kretek kretek.

Saya mengetik pelan-pelan di kotak percakapan saya lagi. “MAMPUS AKU. Makin kenceng aja itu suaranya.”

Saya menyambar gelas berisi air putih di dekat laptop dan meneguknya dalam-dalam, hampir tanpa suara.

“Suaranya kayak apa sih?” tanya teman saya.
“Kretek kretek kretek gitu. Kadang panjang, kadang pendek. Kayak berirama teratur gitu. Aduh, gimana iniiiii.”
“Udah tidur aja, gih. Besok juga ilang.” Kata dia lagi.
“Mbahmu turu! Aku malah ra iso turu nek ngene iki. Gimana kalo guling yang lagi kupeluk itu berubah jadi… GYAAA”

Si teman malah mengirimkan emoticon tertawa terbahak-bahak. “Lah kowe nggawe medeni dewe ngunu.” tambahnya. Sialan, malah diketawain.

Kretek kretek kretek kretek kretek, kretek kretek kretek.

DEG. Saya merinding lagi, mendelik kanan-kiri. Memberanikan diri berdiri dari kursi dan mencari-cari benda yang bisa dipakai untuk melindungi diri.

Siapa tau maling. Siapa tau penjahat. Siapa tau pemerkosa. Tapi bisa jadi juga tetangga sebelah yang kemarin… Lagi-lagi bayangan-bayang makhluk halus yang menyeramkan memenuhi kepala saya.

Saya teringat saran teman saya tadi untuk segera tidur. Bodo amat dengan deadline lah.

Bunyi ‘kretek-kretek-kretek’ itu masih berlanjut ketika saya memutuskan untuk mematikan laptop dan menerjang kasur. Lampu sengaja saya nyalakan. Padahal biasanya saya tidur dengan lampu dimatikan. Saya pun memeluk guling kencang-kencang, berharap dia ga berubah bentuk menjadi… you know.

Kretek kretek kretek kretek kretek.

TUH KAN. Saya memejamkan mata erat-erat dan merapatkan badan ke dinding. Lagi-lagi bayangan-bayangan mengerikan muncul di kepala saya.

Kretek kretek kretek kretek kretek, kretek kretek kretek.

*****
Saya terbangun saat adzan Subuh berkumandang. Saya memandangi kamar. Tidak ada yang berubah dari semalam.

Kretek kretek kretek kretek kretek.

Ugh, MASIH AJA! Saya kali ini memberanikan diri mendekati pintu kamar. Siapa tau memang benar ada sesuatu di baliknya. Saya berjalan pelan-pelan, berjingkat-jingkat mendekat.

Belum sampai di pintu depan, saya dikejutkan oleh suara itu lagi. Irama yang lebih panjang. Dan sangat dekat. Saya berhenti, menajamkan telinga.

Terasa ada hembusan angin dingin di dekat kaki saya. Saya menoleh ke samping kiri saya, kemudian ke bawah.

Kipas angin tua itu berputar pelan dan mengeluarkan suara berderit-derit.

Kretek kretek kretek kretek kretek.

Saya mungkin harus beli kipas angin baru. Tapi gajian masih lima belas hari lagi.

—–

Saya sempat kaget waktu liat file cerita ini ada di laptop. Hampir lupa pernah bikin beginian hahaha. Cerita ini dibikin untuk sebuah proyek kumpulan cerita horor yang diadakan salah satu selebtwit bekerjasama dengan sebuah layanan self-publishing. Pada akhirnya cerita ini ga saya kirim, lupa juga kenapanya. Apa karena kurang mencekam (padahal pas saya baca ulang kemarin itu saya merinding bahahahak) atau tenggat waktunya sudah lewat. Yang saya post di sini juga udah saya edit ulang di beberapa bagian.

Anyway, ini kisah nyata, meskipun latar tempatnya ga nyata. Kejadian aslinya di ruang tengah rumah di Jogja, malam Minggu atau bukan saya juga ga ingat sih. Tapi waktu itu saya benar-benar ketakutan, biasanya tidur sendirian di depan tivi ga masalah, malam itu langsung nyari ibu dan nduseli ketek beliau. Padahal di kamar ibu udah kebanyakan orang, ga muat lagi. :)))

Leave a Reply