Japan Trip 2015 – Summary

Judulnya kok kayak judul file spreadsheet kerjaan. :))) Ini bakalan jadi postingan lumayan panjang. Summary aja panjang, gimana full content-nya. :)))

Kenapa ke Jepang? 

Keinginan untuk berkunjung ke Jepang sebetulnya sudah tertanam sejak kecil tanpa disadari. Hidup dengan komik-komik Jepang bersama adik-adik yang suka jejepangan (dan kokoreaan, tapi kok ya saya ga ketularan kokoreaan juga yak. Apa belum mungkin), negeri sakura ini adalah salah satu negara dambaan untuk dikunjungi. Kelar trip Vietnam-Kamboja bulan Mei tahun lalu, saya mantap untuk pergi ke Jepang tahun ini. Udah dulu lah ye jelajah ASEAN-nya. Jauhan dikit gitu.

Kapan ke Jepang? 

Saya ga suka udara musim panas. Kapok deh pokoknya bepergian pas musim panas. Isine muk gembrobyos tok dan pastinya boros baju. Belum lagi debu. Muka mulus berbie nanti jerawatan muluk deh, kan kzl.

Musim semi lucu sih, liat sakura. Ah tapi terlalu trendi, udah banyak orang yang ke Jepang salah satu tujuannya adalah liat sakura dan hanami-an di Ueno Park. Musim dingin, belum siap sama dinginnya padahal lucu sih ya kalo ada salju.

Then I suddenly fell in love when I look at the autumn colors. Magnificent! Pas sekali waktunya. Ga kecepetan, masih bisa nabung duit santay (apalah ini nabung duit santay) dan nabung cuti.

Beginian niihh yang bikin jingkrak-jingkrak di dalem kereta.

Cek kalender dan peak season. Diskusi sama Rise dan Opat. Mulai musim gugur diperkirakan sekitar awal Oktober. Lalu memutuskan untuk mengincar waktu sekitar akhir Oktober sampai awal November 2015. Pertengahan November mulai peak season lagi karna sudah mendekati natal/akhir tahun dan ada perayaan Sichigosan (15 November, CMIIW). Cek weather forecast dan laporan cuaca tahun lalu widiihhh udaranya enak nih, kisaran antara 17-21 derajat celcius di siang hari dan 11-14 derajat di pagi/malam hari. Ga dingin banget tapi jelas ga bakalan panas banget karna sudah masuk musim gugur.

Goleki sopo tho, mbak? Mase neng kanan kae lho~

Seperti arahan bloher-bloher dan para traveler, untuk yang baru pertama kali ke Jepang, sangat direkomendasikan untuk mengunjungi Tokyo, Kyoto, Osaka (dengan side trip ke kota kecil di sekitar seperti Nara, Kobe, Hakone, Yokohama, atau Nagoya). Oke lah yaaa, nurut aja. Hiks, padahal pengen liat Hiroshima dan Nagasaki.

Berapa lama, seminggu? Ih bentar amat deh, kurang ah, terlalu buru-buru (dan dicekin ternyata tiketnya jadi mahal huahahah). Rencana utama kan tiga kota, jauh-jauh pula. Tadinya mau dua minggu lebih (hampir tiga minggu) tapi kayaknya sih kelamaan, bisa jadi gembel wa entar dan balik-balik meja di kantor udah bersih siiihhh. Keputusan terakhir adalah ditotal 12 hari, dengan 2 hari perjalanan, 10 hari di Jepang.

Getting There

Tentu saja maskapai LCC kebanggaan kita semua, Air Asia! Ga tau deh, ga kepikiran maskapai lain deh waktu itu. LCC ya familiarnya sama Air Asia. Pas duitnya ada untuk beli tiket, pas juga ada promo free seats Air Asia. Langsung deh sikat.

Recommended route memang pastilah masuk via Osaka, keluar Tokyo, atau sebaliknya. Cuman, berhubung saya males ribet ngecekin tiket berkali-kali, saya langsung beli PP CGK-KUL-KIX-KUL-CGK, berangkat 26 Oktober 2015, balik 5 November 2015. Connecting flight dengan transit di KL selama 6 jam. Lumayan bisa menyapa Petronas twin tower dulu dan sowan Upin, Ipin, dan Kak Ros. Eh, saya suka lho code KIX untuk Kansai International Airport. Dan keren banget airport-nya ada di tengah laut, so I didn’t mind if I had to go and back from there.

Berjumpa lagi dengan si kembar. Saya sih. Adek saya baru pertama kali hahahah.

Preparation  

Budget. Saya mematok budget per hari adalah 10,000 JPY (kurs waktu itu 1 JPY = 115 IDR). Sudah termasuk penginapan, makan, transportasi, admission fees, jajan-jajan, beli souvenir. Kenyataannya, ya ga selalu habis segitu selama sehari. Di akhir trip, duitnya sisa sih (Tapi mesti bayar tagihan kartu kredit sama aja beeng hahahah). Pinter-pinter ngakalinnya aja.

Accomodation. Setelah menelusuri jejaring pertemanan, ga ada yang bisa ditumpangi nginep. Jadi harus booking penginapan. Saya langsung cari di Booking.com. Ga ngecek-ngecek tempat lain sih kayak Hostelworld atau Hostelbookers, dipikir-pikir ya kurang lebih sama. Agoda juga dicoret dari opsi karna ada booking fee.

Penginapan di Osaka. Maafkan mas-mas Korea (eh apa Cina ya?) yang lagi nengok itu. Kayaknya sih naksir saya soalnya ngeliatin terus. (Pede amaatt)
Cuma sempet motret penginapan di sini doang hahahah.

Booking penginapan sekitar sebulan sebelum berangkat. Kisarannya antara 2,500-3,500 JPY per malam untuk penginapan yang ga terlalu jauh dari pusat kota dan reviewnya oke. Semua penginapan saya selama di Jepang menyediakan air panas (ini penting! Soalnya lagi dingiiinnn), kamar mandi yang bersih (all hail Japanese lah untuk urusan kebersihan mah), futon super nyaman dan bed luas, dapur (bisa masaaaakk), kulkas, pantry, boleh nitip koper setelah check out, dekat konbini/tempat makan dan stasiun. Sayangnya semua tidak menyediakan breakfast.

Visa. Matilah kau situs-situs pencari klik doang yang menyesatkan jutaan umat Indonesia, mane ade ke Jepang bebas visaaa! Bagi pemegang e-passport (paspor yang ditambahin chip di sampul depannya), ga usah ngurus visa emang, tapi jugaga ga bisa lenggang kangkung cuma bawa paspornya doang pas berangkat (Hati-hati nih jangan sampe diusir imigrasi karna ga punya visa). Kita harus tetap melapor ke kedutaan Jepang, bahwasanya kita ingin mengunjungi negaranya, nanti dikasih stiker tanda kita sudah terdaftar untuk mengunjungi Jepang, nama kerennya Visa Waiver.

Paspor saya paspor biasa dan masih berlaku sampai 3 tahun ke depan, jadi ya saya datang ke kedutaan Jepang di Thamrin untuk mengurus visa sendiri. Tanpa agen.

Visa Jepang termasuk yang super gampil! Seriusan deh. Info lengkap ada di sini. Datang ke sana cukup dua kali saja. Ngantrinya juga ga lama kayak antrian imigrasi. Ga perlu subuh-subuh dateng ke kedutaan. Ngantri masukin berkas setengah jam saja. Pas ngambil yah agak lama dikit soalnya saya kudu ambil nomor antrian dua kali. Pas nomor antrian pertama kelewatan gara-gara ditelponin bos ada kerjaan urgent, kepaksa deh ambil nomor antrian lagi. Bayarnya pas ambil paspor.

Apa? Foto visa saya? Masih jaman ya pamer foto visa? :p

Exploring The Country

Transportation. Banyak orang merekomendasikan JR Pass. keluaran Japan Railways untuk turis mancanegara dan harus dibeli di luar Jepang. Dengan punya JR Pass, kita bebas naik kereta, bus, ferry, shinkansen apa saja ke mana saja di area manapun selama jangka waktu tertentu, asal masih dalam jaringan Japan Railways. Selain JR Pass, Japan Railways juga punya JR West/East Pass untuk beberapa region tertentu.

Saya ga pakai JR Pass, karna… MAHAL. Rencana kan 10 hari di sana, sementara JR Pass opsinya cuma 7 hari dan 14 hari. Ambil yg 14 hari… MAHAL MAAKK. Ya saya harus kehilangan kesempatan ngicipin Shinkansen. Hahaha, gapapa deh, yang penting bisa menjangkau semua tujuan tanpa ribet dan tetep irit.

Selain JR Pass, masing-masing perusahaan jaringan transportasi juga menyediakan berbagai pilihan pass untuk berbagai tujuan. Ini yang bikin tambah pusing. Masing-masing tentu saja berbeda dealnya. Saya baca-baca website JPrail.com untuk referensi. Bisa juga pakai Hyperdia untuk estimasi waktu dan liat direction di Google Maps (di Google Maps juga ada pilihan moda transportasinya lengkap dengan ongkosnya!). Percayalah, persiapan ini yang paling ribet, bahkan sampai sehari sebelum berangkat, saya masih bingung menentukan mau naik apa dari bandara ke tengah kota dan sebaliknya karna nyari the best deal yang ga bikin saya kesusahan geret-geret koper ganti-ganti stasiun.

Saya akhirnya memilih beli paket round ticket limited express Haruka untuk dari dan ke bandara yang berlaku untuk 14 hari+ICOCA Card dengan harga 4,060 JPY. Untuk gambaran regular fare-nya, naik limited express Haruka menuju KIX one way (dari/ke Osaka, Kyoto, Kobe) adalah 1,550 JPY. Harga ICOCA Card adalah 2,000 JPY dengan deposit fee 500 JPY dan saldo senilai 1,500 JPY. Saya rasa ini udah best deal dan ga pusing pas mau pulang ke airport naik apa. ICOCA adalah IC-Card, kayak Flazz/E-money untuk Transjakarta/Commuter Line, atau EZ-link di Singapura. Bisa dipakai untuk naik moda transportasi apa saja, line manapun (JR, Kintetsu, Nankai, Hankyu, Hanshin, Yurikamome, Odakyu, Toei, Tokyo Metro, dll), bayar coin lockers, vending machine, belanja di konbini, bahkan untuk bayar admission fee tempat wisata dan main di game centre, kartu sakti lah ini. Pakainya tinggal tap aja. Seinget saya sih, kalau pakai IC Card bisa hemat 5-8 yen daripada beli tiket ketengan (single tickets), lumayan kan.

Kereta Haruka lagi dibersihin jadi nampang dulu. Padahal belum mandi habis nginep di bandara. :))

ICOCA bisa dipakai di area manapun. Saya tetep pakai ICOCA pas di Tokyo meskipun belinya di Kansai airport dan keluaran JR West. Ndilalah, di dalam perjalanan, ICOCA bergambar Hello Kitty saya jatuh di dalam kereta (dicari di sekitar stasiun ga nemu) waktu saya mau tap out di Asakusa. Akhirnya beli lagi deh SUICA (keluaran JR juga) seharga 2,000 JPY dengan saldo dan deposit yang sama nilainya kayak ICOCA. Kirain SUICA cuma bisa dipake di area Kanto doang, ternyata bisa dipakai di Kyoto juga jadi yah aman sampai pulang hahahah. Selanjutnya, SUICA saya kalungin biar kaga jatoh-jatoh lagi sampai dikomentarin mbak Restu kayak peserta seminar. :))))

Ga tau deh, kenapa kok saya iseng aja motoin si Hello Kitty. Udah tanda-tanda bakal ilang kali ya.

Transportasi paling reliable adalah kereta. Di Osaka dan Tokyo saya sama sekali ga naik bus. Di Nara malahan jalan kaki doang, naik kereta PP ke Osaka aja. Di Kyoto enaknya naik bus sih ke mana-mana, mending beli One-Day Bus Pass senilai 1,000 JPY bebas naik bus tanpa bayar lagi seharian untuk explore di Kyoto.

Naik taksi sangat mahal. Buka pintu mulai dari 500-1,000 JPY. Itung sendiri ye kalo dari bandara ke tengah kota.

Untuk transportasi antar kota, ada opsi naik highway/overnight bus, kalau mau lebih hemat karna kadang naik kereta bisa mahal banget. Dari Osaka ke Tokyo naik shinkansen bisa habis 10,000-12,000 JPY (one way), naik highway bus bisa separonya. Atas nama pengiritan, saya memilih naik overnight bus biar ga usah bayar penginapan juga. Bus AKAP Jepang buat saya cukup nyaman. Saya tidur cukup pulas kok di dalam Willer Express dari Osaka-Tokyo dan Tokyo-Kyoto. Bangku yang enak itu justru bangku paling belakang karna bisa ngepolin reclyning seat tanpa khawatir orang yang duduk di belakang kita bakal protes hahahah. Sebelum berangkat, di dalam bus akan dijelaskan rules selama perjalanan. Salah satunya adalah kalau kita harus permisi sama orang yg duduk di belakang kita pas mau mundurin (ini apa sik, mundurin hahahah) reclyning seat. Very thoughtful, japanese. Very thoughtful.

Tiket bus seperti Willer Express (banyak sebetulnya line bus antar kota tapi yg terkenal di kalangan pejalan ya Willer) tidak bisa dibeli di pool bus atau terminal kayak di Indonesia. Kita harus pesan maksimal 24 jam sebelum waktu keberangkatan online, bayar di konbini, atau pakai credit card.

Bayar tiket bus ini pake deramak juga dikit. Ceritanya saya udah booking online, mau bayar di konbini (Family Mart), minta tolong sama mas-mas dan mbak-mbaknya lah ya make mesinnya (kayak Loppi kalau di Lawson), karna tulisannya cacing semua. Pada ga mudeng dong mau saya apa. Saya udah bilang ‘Willer’ pake logat Jepang (jadinya ‘Willaaarr’), nunjukin screenshot bookingan, masih ga paham juga. Sudah empat Family Mart saya tanyain, ga ada yg bisa bantu. Di sebuah Family Mart pas keluar stasiun Namba, akhirnya mas-mase panggil meneher, menehernya juga sama ga mudeng dan dia pun nelpon hentah siapa, lalu sambil nelpon dia nunjuk-nunjuk itu mesin. Alhamdulillaaaaahh kelar dan bisa dibayar! =))

Admissions fee. Referensi saya adalah Japan Guide. Udelah, lengkap semua ada di situ. Dari mulai getting there, perkiraan ongkos, open and close times, admissions fee. Rata-rata sih untuk tujuan wisata jenis shrine dan temples, tiket bisa dibeli on the spot, banyak juga yang gratis. Yang kecele adalah waktu mau beli tiket Museum Fujiko F. Fujio dan Museum Ghibli.

Doraemoonnnn~

Dua tempat ini destinasi laris manis tanjung kimpul yang beli tiketnya harus online. Untuk Ghibli bahkan harus jauh-jauh hari cem mau beli tiket kereta ke Jogja aja, tiga bulan sebelumnya udah dibuka. Ngeri-ngeri sedap. Saya terlalu santai juga sih, jadinya baru kontak teman yg tinggal di Jepang pas udah di KL untuk minta tolong dibeliin tiketnya. Akhirnya cuma kebagian yg Fujiko F. Fujio Museum, yang Ghibli ga kebagian. :((

Eating. Dengan budget 10,000 JPY per hari, saya mematok biaya makan (ini termasuk jajan, yang mana SANGAT SULIT UNTUK DIREM HAHAHAH) sebesar 2,000 JPY. Yah kalau udah biasa hidup di Jakarta, duit segitu emang rata-rata pengeluaran makan+jajan pas baru gajian ngahahaha.

Konon katanya makan di Jepang itu mahal. Lha ya kalau makannya di restoran muluk pasti lah. Gambarannya, saya makan ramen di warung kecil di Shinjuku (Atas saran mbak Opat, demi makan ramen di negara aslinya saya ke situ. Warungnya kecil tapi interiornya tsakep dan sleek banget!) aja 880-1,100 JPY. Strategi saya adalah, untuk makan pagi dan malam, saya makan apapun yg saya pengen tapi belinya di konbini. Kebanyakan makan onigiri sih, hahaha sedih. Onigiri banyak macemnya, jadi saya cobain semua (yang bukan isi babi dan ikan, soale ku ga suka ikaaann) dengan harga di kisaran 100-200 JPY. Sekali makan dua-tiga onigiri.

Sepuluh hari makan pagi onigiri muluk ya bosen deh, balik Jakarta muke udah kek onigiri. Diselingin sama roti tawar dan buah. Jangan salah, roti tawar di Jepang tebel cing! Satu potong roti tawar di Jepang sama dengan dua potong ukuran roti tawar di Indonesia.

Untuk makan siang, nah ini agak dimewahin dikit (iya dikit doang). Dibudgetin maksimal 1,000 JPY. Pilihan banyak, mulai dari fastfood (yang populer di Jepang kayake McD ya. KFC jarang nemu, Burger King nemu di Shibuya), Yoshinoya (favorit! Kalo ga pesen beef bowl ya curry rice. Yang large harganya ga sampai 500 JPY udah dapet freeflow minum ocha atau air dingin), ramen, udon, sushi, apa aja deh. Saking seringnya makan di Yoshinoya saya dapet kupon potongan 50 yen muluk, numpuk ga kepake semua dah (soalnya lupa terus kalo punya kupon).

Kok ga nyari restoran halal? Saya sangat perhatian dengan waktu, kami cari makan sambil jalan biar ga ribet nyasar-nyasar jadi yah, selewatnya aja pas nemu tempat makan yg dirasa aman ya masuk aja. (Apaan, padahal di Kyoto bela-belain nyari Yoshinoya jalan ngelilingin central city-nya dan ga nemu aja dong hahahah).

Kayak yang saya bilang sebelumnya, paling susah direm itu godaan untuk jajan. Soalnya hampir di semua tempat wisata itu pasti ada aja sentra jajanan, ga cuma satu dua tapi BUANYAAAKK. Mana ini kan lagi di Jepang, ya mumpung di tempat aslinya dicobain lah semua jajanan yang selama ini cuma bisa diliat di komik. Rata-rata jajanan mulai dari 100-700 JPY. Mesti jeli nih, jangan cuma karna laper mata jadi milih jajanan yg udahlah harganya lebih dari 500 yen, isinya sekiprit. Best deal itu pas di Fushimi Inari. 1,000 JPY bisa dapet dua jajanan yang porsinya super besar dan dibagi dua! Asikkk, ga perlu makan siang lagi, super irit!

Segini cuma 500 yen!
Okonomiyaki tanpa bacon by request. 500 yen juga.

Paling menyesal adalah ga nyobain cumi dan gurita bakar pas di Arashiyama. Dua kali ngelewatin wanginya semerbaaaakkkkk, akhirnya cuma sempet motoin doang. Dipikir-pikir ya harganya ga mahal, 400-600 JPY dapet cumi bakar gendut begitu.

Cumi dan gurita bakar akhirnya difoto doanggg.

Roaming and Phone Data. Saya ga booking/nyewa wifi router buat di jalan. Apa pasal? Jatohnya mahal, karna saya cuma pergi berdua dengan adik. Kalau perginya bertiga atau berlima, bisa lah jadi murah. Kemarin itu sempat lihat-lihat biaya sewa wifi router selama 10 hari dari beberapa provider, yah meski dapet diskon tetep aja mahal kalau cuma dibagi dua. Jadi, memutuskan untuk mengandalkan wifi yang tertangkap aja. Untuk pamer-pameran, ya biasanya dilakukan di akhir hari ketika sudah sampai di penginapan yang biasanya banjir wifi. Untuk komunikasi urgent, pakai SMS (tentu saja isi pulsa secukupnya sebelum berangkat karna kan kena roaming jadinya mahal). Meskipun tanpa koneksi internet dan sarana komunikasi pas-pasan, saya berhasil juga lho ketemu sama temen saya di National Museum of Western Art di dalam komplek Ueno Park, dan teman adik di Kintetsu Nara Station. Waktu itu sih, untuk jaga-jaga saya minta nomor telpon teman supaya bisa kami hubungi pakai telepon umum yang tersebar di mana-mana. Asik ya di Jepang telepon umumnya masih jalan, coba di sini, hadeuuhhh.

Di Jepang sih wifi tersebar di mana-mana, tapi ya ga sembarangan langsung bisa dipake juga. Seringnya wifi tertangkap kalau di stasiun. Malam hari sebelum tidur, biasanya saya online google maps buat screencapture akses transportasi dan direction ke tempat tujuan esok hari. Mending begini sih, ga repot nyari wifi dulu baru akses google maps. Biasanya, kalau sudah tau nama-nama stasiun tujuan, saya nanya ke petugas stasiun apakah stasiun tujuan saya benar lewat jalur tersebut. Tetep ye kudu nanya. Yah namanya pan orang Indonesia, kalo belom nanya belom afdol dan belom bisa diyakinkan.

Sightseeing. Total saya di Jepang adalah 10 hari, dengan breakdown:

Osaka 3D2N dengan half day trip ke Nara (kurang lebih 90 menit PP dari Osaka station), Tokyo 4D3N (karena batal ke Ghibli, memutuskan untuk explore Yokohama (sejam dari Tokyo) half day; kota yang jadi setting film Ghibli favorit saya tapi lagi-lagi harus gagal karena hujan huhuhu), Kyoto 3D2N.

Di Osaka ke mana aja? Universal Studios Japan demi the precious Wizarding World of Harry Potter, Dotonburi dua kali (Glico Man udah khatam lah), Shinsaibashi, Osaka Castle dua kali (saking demennya hahahah. Tombo kejadian horor soale pas pertama ke situ ada yang bunuh diri. Siang-siang, meeenn!), ngelewatin gedung pemerintahan di Osaka (kantor bapaknya Heiji Hattori!).

Hogwart’s Castle! Sambil nyeruput Butterbeer, ceritanya habis jalan-jalan ke Hogsmeade.

Di Nara: Todaiji Temple, Nara Park (sebagian doang karna kompleknya luas benerrrr), walking around the city aja lalu mampir numpang solat di dorm-nya Alif, temen adek saya yang lagi kuliah di Nara Women University (kampusnya di dalem gang gitu hahahah, kayak SD malahan).

Todaiji Temple. Gedhi yaakk~
Didikan shoujo manga. Liat jimat kepengen tuku kabeh. Musyrik woy. (Tep tuku nggo lucu-lucunan tapi)

Di Tokyo: Odaiba, Asakusa, Ueno dan sekitarnya, Tokyo Skytree, Meiji Jingu, Shibuya, Akihabara (cuma numpang foto depan AKB48 Cafe doang hahahah), Shinjuku (dua eh tiga kali ke Shinjuku! Doyan amat), Fujiko F Fujio Museum, sempet mampir Ginza malam hari (ini akibat pusing nyariin pool Willer Express deket Tokyo Station, jalan geret koper nyasar sampai Ginza).

Ngalamun neng Odaiba. Ngopo e mbak, ngarep jodone metu seko banyu makbyurrrr koyo Digimon ngono po?

Di Kyoto: Takashimaya dept store (mampir kantor pos doaaanngg), Tannimachi, Kawaramachi (ini area sekitaran guesthouse), Fushimi Inari, Arashiyama, Gion (ini juga deket guesthouse bisa dijangkau jalan kaki hahahah), Imperial Palace, Kyoto International Manga Museum (GAGAL! Soale pas TUTUP HIH), Maruyama Park (gagal juga, akibat kelaparan jalan kaki keliling kota cari Yoshinoya), Kiyomizu-dera temple.

Gagal masuk. Foto di depannya aja lah.

Nah sekian summary-nya (Panjang ya, summary doang huahahah). Nanti akan diupdate lagi mengenai masing-masing tempat yang saya kunjungi.

Kalo ingat.

Dan ga malas.

Permios adiossss!

2 comments

  1. “… sampai dikomentarin mbak Restu kayak peserta seminar. :)))) ”
    Apa maksudnya ini ??? 😀 😀

    Reply

Leave a Reply