Formula Metropop

Membaca novel dengan genre Metropop ini semacam apa ya… guilty pleasure? Ah engga sih, saya ga merasa bersalah tiap baca genre ini. Cukup pleased setiap baca ini tanpa tambahan merasa bersalah. Cukup puas dengan jalan cerita yang klise, ending yang gampang ditebak, konflik yang juga gampang ditebak. Walau kadang suka ngelempar novel yang banyak typo, diksi tidak menarik, dan kalimat yang belepotan.

Yang bikin saya masih betah untuk baca Metropop (sampai kadang saya menyediakan waktu dan budget tertentu karna emang kepengen cari Metropop), mungkin lebih ke penokohan karakter kali ya. Contoh aja nih, bagi saya Sophie Kinsella itu jenius. Dia bisa bikin novel chicklits (Chicklits di luar, di sini Metropop. Kayaknya si Gramedia mau jadi pionir gitu deh hahahah) dengan berbagai karakter perempuan yang berbeda-beda. Ga melulu pegawai kantoran (Kalo ga perusahaan multinasional, ya bank. Elah Orang Indonesia pikir kerjaan ‘wah’ itu cuma di sono ya?). Di I’ve Got Your Number ada Poppy Wyatt si terapis yang pusing cincin kawinnya ilang. Atau Rebecca Bloomwood, penulis majalah finansial yang gila belanja di Shopaholic Series.

I mean, sedikit sekali novel Metropop yang menguraikan detail pekerjaan karakternya sampai seperti Sophie Kinsella. Kita cuma dikasih gambaran bahwa mbaknya sibuk banget. Meeting ini, meeting itu (ga tau meeting-nya tentang apa), kertas berhamburan berserakan di mana-mana, pulang malam tauk lemburin apaan.

Sekali-sekali coba tengok profesi tidak lazim untuk perempuan, misalnya karyawan kontraktor (eyaaaa, ini minta dibahas banget) yg harus terjun ke lapangan ngecek site dan lembur bikin progress report/tagihan subkon (EYAAAAA), atau karyawan offshore yang harus standby di site shift-shiftan; rindu keluarga tak bisa selalu menghubungi karna kepentok sinyal dan harus nunggu enam minggu lagi untuk pulang, atau mbak-mbak pengelola online shop yang harus mengurusi berbagai macam tetek bengek mulai dari website sampai meladeni tsurhat customer di BBM/Whatsapp. Atau lika-liku kerja di lingkungan pemerintahan? Jarang banget lho ini. Kayaknya menarik bahas lika-liku percintaan pegawai pemerintahan.

Ada hal lain yang bikin saya suka gemas. Kenapa ya tokoh utama itu suka dibikin gemerlap? Dengan latar keluarga terpandang ditambah dengan segala pernak-pernik glamornya (sepatu hak sekian belas senti, gaun koktail, pesta ini itu, nongkrong di kafe ini, fine dining restoran itu, merek lalala dengan harga sekian juta). Apakah harus dibikin gitu ya untuk genre ini? Toh kehidupan metropolitan tidak selalu seperti itu. Ya ga sih? Saya kan (((anak metropolitan))) juga, tapi ga gitu-gitu amat. Smartphone saya biasa aja ga canggih, ke mana-mana naik angkutan umum (Uber angkutan umum kaaan? Hahahahak), ga suka nongkrong di kafe, suka jajan gorengan.

Kadang-kadang, ada karakter yang dipaksa untuk low profile. Masih suka naik angkot sesekali (atau Transjakarta lah. Biar ga jomplang-jomplang amat). Ga terlalu suka dandan kalau ga perlu. Lebih suka berpenampilan kasual. Ya oke sih, tapi apa perlu, ditambahin, ‘Sebetulnya dia anak pemilik hotel dengan jaringan seluruh dunia, tinggal di kompleks elit, biasa hidup mandiri karna orangtua sibuk, blablabla’. Kenapa ga digambarkan kalau si tokoh utama ini rumah masih nyicil lima belas tahun lagi di cluster pinggir kota, mobil baru aja lunas atau peninggalan kakek atau om. Tampak lebih natural ketimbang harus berusaha membuat karakter yang dipaksa low profile.

Sejauh ini penulis Metropop Indonesia yang saya kagumi baru mbak Retni SB. Karakter-karakter yang dia bikin begitu dekat. Latar belakang cerita tidak selalu Jakarta dan sekitarnya, background karakter pun tidak selalu dari anak orang kaya yang high profile atau yang dipaksa low profile, dan variasi pekerjaan yang dimunculkan. Belum ditambah dengan dialog yang tidak kaku dan tidak pula kejakarta-jakartaan. Dan humornya! Cukup bikin terpingkal atau ketawa-ketawa bego. Dekat dengan sehari-hari lah.

Novel terbarunya mbak Retni SB. Bukan Metropop sih, karna published by Bentang. But you should read this!
Novel terbarunya mbak Retni SB. Bukan Metropop sih, karna published by Bentang. But you should read this!

Elah, mbaknya siapa tho, kritik-kritik aja. Mbaknya udah pernah bikin apa? Coba bikin karya yang begitu, kita lihat apakah berhasil menembus penerbit bergengsi di Indonesia.

Ya saya sebetulnya cuma tukang nimbun buku yang suka protes. :p

Logo Metropop dari sini. Cover Mencarimu dari Goodreads

 

 

4 comments

  1. OPO IKI HAHAHAHAHAHAHAHA (kaget ndelok judul karo gambare, tulisane durung diwoco)

    Reply

  2. Kalau begitu mari kita tunggu terbitnya metropop dengan tokoh pegawai kontraktor 😀 😀

    Reply

Leave a Reply