Lebaran 2020

Tahun ini Lebaran yang lain daripada tahun-tahun sebelumnya.

Paling utama terasa bedanya adalah: saya tidak mudik ke Jogja.

Niat ini sudah diutarakan sejak saya balik dari Jogja sekitar awal Maret. Pas banget di hari kasus 1-2 Indonesia diumumkan, saya baru tiba di bandara Soekarno Hatta malam hari. Bayangkan gimana parnonya saya di bandara waktu itu.

Mikirnya waktu itu, kalau sampai Lebaran kasus positifnya masih banyak, tidak usah mudik Lebaran saja, toh belum beli tiket juga.

Tidak mudik berarti tidak berkumpul bersama keluarga. Tidak makan masakan ketupat-opor-sambel goreng kentang buatan ibu. Tidak bikin keributan di rumah bersama adik-adik. Tidak sungkem bapak dan ibu. Tidak disungkemi adik-adik dan adik ipar (well, kecuali Riris karena Lebaran-nya bareng dia di Jakarta). Tidak bisa bermain dengan keponakan.

Continue reading Lebaran 2020

Empat Minggu Karantina

Lebih tepatnya, memasuki minggu kelima karantina.

January and February was bearable despite flaws here and there, but March was hard, embuh banget lah. I thought everything will be better entering the Q2, turns out it’s getting more and more uncertain.

Sabtu tanggal 14 Maret adalah hari terakhir saya bertemu Riris, adik saya. Kami janjian bertemu di Holygyu, Kebon Jeruk (adik saya tinggal di Kebon Jeruk) untuk makan siang bareng. Kemudian kami ke Gandaria City dan menonton film Onwards (yang setengah jam pertamanya saya ketiduran tapi filmnya bagus kok), liat-liat bermacam barang, jajan lucu (lupa jajan apaan), mengobrol panjang lebar berbagai topik mulai dari tentu saja Coronavirus, kerjaan, teman, keluarga, sampai julidin orang sekitar kami. Saat itu mal lumayan sepi sekitar jam 1 siang, tapi selesai menonton film, menjadi sangat ramai. Kami pun berpisah dan pulang ke tempat tinggal masing-masing sekitar jam 4-5 sore. Sudah sebulan sejak saya terakhir bertemu dengan adik saya, padahal kami tinggal di kota yang sama.

Continue reading Empat Minggu Karantina