Mendadak Mudik di Akhir Tahun

I am not a spontaneous person in terms of traveling. Either it’s domestic or abroad, I usually allow some time to do at least a general planning (I am also not a person of detailed itinerary. In some conditional situations, I am more of a “liat-entar” person).

So, I challenge myself on last week of a the year 2017 with a spontaneous mudik trip. (Not exactly a “challenge” but I felt a bit nervous that time)

Judule pake bahasa Indonesia, napa preambule-nya jadi keminggris.

Setelah lebaran, saya belum mudik lagi. Alasan klise, sibuk. Adapun tiap terbersit pikiran untuk pulang, harga tiket pasti sudah melambung atau yah, sudah habis. Apalagi kalau judulnya long weekend.

Maka lewatlah libur Idul Adha, libur 1 Muharram, setiap tanggal merah pun luput. Sampailah pada penghujung tahun di mana saya sudah beli tiket ke Jepang untuk akhir November sampai awal Desember. Mudik akhir tahun? Hampir tidak pernah saya rekomendasikan karena Jogja sangat sangat sangat ramai oleh turis yang membuat agenda saya setiap mudik hancur berantakan.

Begitulah, saya sudah pada mantap tidak akan pulang pada akhir tahun. Tanggal 26 Desember yang dinisbahkan sebagai hari cuti bersama pun saya masuk kantor karena… bingung mau ngapain di rumah. Besokannya (tanggal 27), sedang santernya berita peluncuran kereta bandara dan saya memutuskan untuk nyobain piknik naik kereta bandara di weekend terakhir tahun 2017. Bolak-balik saja, karena toh saya ga punya tiket pesawat ke mana-mana.

Waktu lagi asik-asiknya browsing info mengenai kereta bandara sambil cerita-cerita sama tetangga meja (yang juga sedang browsing-browsing rencana liburan akhir tahun), tau-tau dia nyeletuk “Coba aja, Put cari tiket ke Jogja. Siapa tau last minute gini ada yang murah”.

Dengan ekspektasi nol, saya pun membuka website pembelian tiket junjungan kita semua, Traveloka (bukan endorse!). Ketak-ketik cari tanggal yang pas (bro, itu udah tanggal 27, wa mau pulang kapan cobaaaakk kalo ga besoknya atau lusa tanggal 29), saya melongo pas liat hasil pencarian saya: tiket pesawat tanggal 28 malam itu di bawah sejuta, bahkan di bawah 700 ribu (estimasi saya kalau lagi peak season).

DEMI APAH. MBAK TETANGGA MEJA, ADA NIH. BENER-BENER DAH, KAMU SUDAH MERACUNIKU. Mbak tetangga meja hanya terkekeh-kekeh dan makin mengompori bahwa kemungkinan tanggal 29 hari Jumat itu banyak yang pada cutay, dan kantor bakal sepi. Yah, kerjaan tanggal segitu juga sepi sih karena rangorang pada libur, apa yang mau difollow-up.

Tau-tau aja di tanggal 27 Desember siang, saya sudah issued tiket mudik buat tanggal 28 Desember malam. Naik Sriwijaya Air seharga Rp 604,000. Tadinya ada Batik di angka Rp 583,000 tapi berarti ga ngicip kereta bandara dong, kan doi berangkat via Halim? Lagipula ketika sudah mantap untuk mudik (setelah kontak adek dan ibu meminta saran), ternyata Batik harga segitunya sudah gone. Sedih. Eh tidak dongs, karena Incess akan ngicipin kereta bandara dengan harga opening Rp 30,000 saja ohohohoh.

Tiket balik Jakarta-nya pun ada siz! Di tanggal 31 Desember malam. HAHAHAHAHA. Malem taun baruan di kereta. Pun saya tep kudu udah di Jakarta tanggal 1 Januari karena sudah janjian sama si Rise (padahal doi juga tanggal 29-31 di Jogja. MACAM MANA). Langsung sikaatttt!

Tibalah tanggal 28 hari keberangkatan. Pagi harinya di kantor langsung isi form cutay dan siangnya udah dadah-babay-si-yu-neks-yer-gaes sama rangorang kantor karena harus ngejar kereta bandara yang sudah dibook untuk jadwal jam 15.51. Pagi amat sizzzz, pesawatnya aja jam 19.45.

Saya baca kabar kabur di Twitter kalau banyak orang Jakarta yang juga ingin ngicipin kereta bandara ini, jadinya takut malah ga kekejar pesawatnya kalau mepet-mepet. Waktu tempuhnya pun 1 jam dari stasiun BNI City/Sudirman Baru. Ga kelamaan itu yak? Mana pun saya posisinya berada di Cilandak yang sebetulnya kalau mau ke bandara mah tinggal lewat JORR doang juga rebes. Hanya saja, demi konten instagram story terkini, saya tak boleh ketinggalan ngicipin kereta bandara juga dong.

Singkat cerita, saya ketinggalan kereta untuk jam 15.51 HAHAHAHAHAH. Pasalnya, saya naik Transjakarta dari Pejaten jam 14.45, macatsss di Mampang (lupa banget sama parahnya macet di situ!) dan sampai di halte Dukuh Atas udah jam 15.45. Beloman lah jalan ke Sudirman trus cari-cari stasiun barunya ini. Sampai di stasiun Sudirman Baru/BNI City-nya pas banget jam 16.00. Bhaaayyy kereta jam 15.51~

Langsung lari ke vending machine cari tiket baru. Masih ada untuk keberangkatan jam 16.21! Lumayan oke ya ini, bisa pakai kartu debit/kredit, tapi kalau yang ga biasa pakai gimana? Mendingan tetep ada sarana yang bisa bayar cash, atau pakai loket aja buat yang go-show. Ga papa berusaha terdepan pakai teknologi terkini, tapi kan ga semua orang siap dan ngeh soal penggunaan kartu debit/kredit sebagai alat transaksi. Buktinya di Jepang ticketing machine masih pakai uang tunai. Ah lu kek ga tau aja ti, kepentingan kanan-kiri-depan-belakang kalo di endonesya~Sok-sokan mau trendi dan terdepan biar banyak rangorang terima jatah di belakang.

Tsakep ya? masih kalah sih sama Kyoto Station (yaeyalaaahh jauh).

Mengenai stasiun Sudirman Baru/BNI City (Railink, cepet putusin pake nama yang mana deh, pusing Incess), cukup oke sih. Cuma saya sempet kebingungan di awal cari mesin penjual tiket. Kaga ada petunjuknya mamen! Atau petunjuknya ada di tempat yang saya ga langsung lihat. Jadinya kudu nanya dan ada di lantai dua! Zzzzz…

Concern lainnya adalah karena stasiunnya baru jadi, area eksternalnya belum selesai, berantakan. Paving belum kelar dan jalannya masih beton yang dilapis debu dan pasir. Sangat tidak ramah bagi pejalan Indonesia yang rata-rata suka bawa koper beserta kardus oleh-oleh. Tidak saya sarankan untuk mereka yang bawa barang banyak karna akan jadi ribet. Kemarin sih saya cuma bawa sling bag dan ransel jadinya ga ribet. Sempet liat ada yang geret-geret koper dan bawa-bawa kardus dari kolong Jl. Blora itu, aduh kasian amat.

Selanjutnya mengantri menuju peron. Lucu juga sih di depan gate orang-orang kudu ngantri dulu sebelum scan barcode tiket. Apa akan begini seterusnya atau karna masih soft opening? Untuk urusan scanning-nya saya juga agak terganggu. Model scan barcode gini bisa menyebabkan antrian yang cukup panjang. Kenapa ga model slorokan kayak di Jepang gitu ya? Jadi tiketnya dimasukin dan nanti keluar lagi ketika sudah kebuka gate-nya.

Maaf ya referensinya Jepang mulu, soale wa kan habis dari Jepang jadi masih berasa betapa convenient-nya transportasi di sana ketimbang di sini (yang sudah mulai improve tapi masih lambat sekali).

Did not expect this.

Oya, satu yang di luar ekspektasi saya, ternyata sesampainya di stasiun bandara Soekarno-Hatta, ada Skytrain yang menghubungkan tiap terminal! Waawww owseeemm. Saya sempat mikir ntar gimana dari stasiun bandaranya untuk ke tiap-tiap terminal, apakah ada shuttle bus? Harusnya ada kan. Eh begitu sampai saya dikezutkan oleh papan penunjuk Skytrain.

Bentukan Skytrain-nya sih sama kayak yg di Changi atau KLIA atau KIX tapi jalannya lambat betul lah. Tujuan saya adalah terminal 2 (TERIMA KASIH YA ALLAH SAYA GA HARUS BERANGKAT VIA TERMINAL SATU YANG KAYAK PASAR ITU). Nungguin Skytrain ini datang lumayan lama juga, ada kali 10 menitan dan antriannya ga dibikinin jalur. Begitu datang, orang-orang langsung grudak gruduk macam dikejar entah apa padahal sebagian besar cuma mau nyobain, elah. Ada beberapa yang emang tujuannya untuk naik pesawat kayak saya dan bawa koper besar jadi sulit gerak akibat manusia tukang serobot ini. Bikin keributan pula di dalam rebutan tempat duduk yang tidak banyak.

Skytrain. (Gambar milik Liputan6.com)

Saya sampai di terminal 2 sekitar jam 6 sore (see, dari Jakarta jam 16.21 dan sampai di terminal jam 6 sore, kelamaan kan). Kalo naik taksi dari rumah mungkin saya udah sampai terminal 2 dari jam 5 sore (saya berangkat jam 14.30 dari rumah). Jadi gaes, pikir-pikir dulu sebelum memutuskan untuk naik kereta bandara.

Demikian review mengenai kereta bandara. Selanjutnya adalah agenda mudik saya yang tidak menarik. Saya cuma punya 3 hari di rumah, jadi agenda yang terlintas hanya: goler-goler, goler-goler, dan goler-goler.

Saya sampai di Adisucipto jam 9 malam dan sempat bengong pas liat di halaman parkir bandara ga ada taksi standby. Oh, ternyata drop off-nya pindah ke halaman parkir yang arah imigrasi itu. Telepon taksi langganan (Sadewa) lagi ga ada armada. Cek Uber: No cars available. WHAT. Kemudian coba pakai Go-Car, ada yang nyaut dan satu jam kemudian saya sampai di rumah.

Sampai di rumah ya salaman sama ibu (bapak udah molor), mandi, noyorin adek-adek, tsurhat sama emak, kemudian tidur.

Besoknya, tanggal 29, hari Jumat dari pagi sudah hujan, sodara-sodara. Sudah¬† bisa diprediksi sih. Ini juga yang sempet bikin saya ragu untuk mudik karena kalau hujan ya saya cuma bisa goler-goler di rumah aja. But, hey, it’s home and what’s better than just laying on the bed at home?

Habis sarapan, saya mainan hape di kamar, trus ketiduran. Bangun-bangun udah jam 12-an, hujan sudah berhenti berganti panas ngentang-ngentang and nope, I still didn’t feel like going anywhere. Lalu diajakin adek beli nasi padang kesukaan dia dan saya perlu ambil duit. Yasudah sekalian jajan di Indomaret dan beli dawet juga. Habis itu makan siang kemudian tidur lagi, hahahah.

Hentah sudah berapa wiken aku tidak tidur siang seintens dan sekhusyuk ini.

Sabtu, tanggal 30, saya dan ibu ke Pasar Beringharjo naik taksi (lagi males nyetir) untuk update stok celana pendek rumah batik saya yang menipis akibat sobek semua hahahah. Ga tanggung-tanggung saya langsung beli setengah lusin! Celana pendeknya enak banget, gaes. Harganya murah satunya ga sampai 50ribu (saya lupa antara 27ribu atau 34ribu). Selain celana batik, kami belanja daster juga untuk setok di rumah kalo ada yang nginep.

Kelar belanja di Beringharjo, saya dan ibu ke Ramai untuk belanja groceries. Pulangnya naik Go-Car dan baru tau ternyata Jokowi lagi di Jogja dan yeah, sekitaran Istana Negara situ macets dan banyak pengalihan jalur.

Habis zuhur saya pergi sama Ruben ke rumah Ondel untuk tengok bayi dan update gosip HAHAHAHAH. Sebelumnya kami makan dulu di Warunk Upnormal di Gejayan yang ternyata baru buka dan bro, salah banget pesen Indomi di warung beginian. Lupa kalau porsi Indomie saya harus duwa! Satu doang mana nendanggg.

Sampai di rumah Ondel, dedek bayi bangun dan lagi sesi gunting kuku sama emaknya. Uyel-uyel donggg dan sukses kena eek padahal baru lima menit gendong, heuh. Saya di rumah Ondel sampai habis Magrib. Kalo udah ke rumah temen, saya udah ga pengen ke mana-mana lagi dan bisa di sono sampai malam. Pulangnya beli Jco dulu buat adek. Sampai rumah sekitar jam setengah 8an.

Tanggal 31, hari Minggu, dimulai dengan wew kok sudah hari terakhir di rumah dan ntar malem harus balik ke Jakarta. Surprisingly, untuk kali ini saya biasa-biasa aja harus balik ke Jakarta. Di jadwal mudik sebelumnya saya bisa nangis gerung-gerung dan menunda-nunda beresin barang-barang beneran ke setengah jam sebelum saya berangkat ke stasiun.

Siang itu kami sekeluarga makan di luar, deket rumah aja, di Bale Ayu. Kebetulan adek saya yang tinggal di Sleman pas pulang dan lengkap kumpul semua! Makannya super mevvah siz tapi ya harganya juga super murah. Makan berenam itu sekitar 400ribuan dengan menu seafood dan gurameh.

Kelar makan ya pulang ke rumah dan… tidur siang lagi. Hahahahahah.

Habis Magrib siap-siap mau balik Jakarta dan… WAT. Banyak jalan ditutup ke arah stasiun! Ya Allah lupa banget itu malam tahun baru dan banyak panggung di sekitaran Malioboro sampai Alkid. Itu kan jalur saya ke stasiun dari rumah. Telpon taksi (yang pool-nya deket rumah) full. Cari Go-Car ga ada yang nyaut sampai sekitar 15 menitan kemudian saya dan adek pun berpikiran untuk masing-masing order Gojek aja. Heyyy, malah dapet dan drivernya ada di… Bantul.

Ga jauh sih sebetulnya dari Bantul ke rumah saya, tapi kan kasian drivernya. Sambil liat peta jalan yang ditutup saya pun ancang-ancang jalur alternatif. Brigjen Katamso via Ibu Ruswo dan Alun-Alun Utara sudah jelas ditutup, jadi saya harus lewat Jokteng sampai ke Jl. Wahid Hasyim, Ngabean, Ngampilan kemudian muter ke Bumijo dan Samsat baru deh sampai Mangkubumi dan stasiun pintu utara. Padahal biasanya saya sih lewat KHA Dahlan dan Jl. Bhayangkara tapi jalur itu rame banget kayaknya, dan area Pasar Kembang juga jalannya ditutup.

Alhamdulillah, setengah jam sampai. Biasanya cuma 15 menit sih hahahah. Langsung cus menuju lounge (bayar 50 ribu/orang) dan adek saya pun nyusul (dia berangkat duluan, tapi sampai belakangan). Di lounge kami pun leyeh-leyeh dan goler-goler nunggu kereta yang jadwal berangkatnya masih 2 jam lagi. =)))

Mudik dadakan yang super singkat pun selesai dan siap menyongsong 2018!

Oktober yang Melelahkan

Karena hari ini adalah Hari Blogger Nasional, maka sebagai bloher aras-arasen saya harus ikut meramaikan juga.

Bulan Oktober sudah mau habis, dan rasanya berlalu sangat cepat. Setelah akhir bulan September adalah farewell dengan bos (rasanya tiap tahun farewell sama bos mulu gue ya hahahah) dan Rise, datanglah bulan persiapan pindahan ke kantor baru.

Rencana pindah ke kantor baru sudah disiarkan sejak pertengahan bulan Agustus, kalo saya ga salah inget. Waktu itu lagi geger soal pembangunan underpass Mampang-Kuningan, ditambah pembangunan LRT yang bikin semua orang hampir tiap hari mengomel soal perjalanan ke kantor. Saya sih ga ikutan, wong kosan selemparan kolor aja dari kantor.

Belum lagi beredarnya isu tentang kontrak sewa dengan gedung yang sekarang akan segera berakhir. Ya sudah tau-tau aja rencana jadinya matang, dan dimulailah proses pelaksanaan pindahan. Pindahannya ga tanggung-tanggung, ke TB Simatupang.

Cincay sih, wa pernah jadi anak Cilandak sebetulnya. Tapi mak, terus mikir. Setiabudi itu udah strategis banget. Ke mana-mana enak, banyak pilihan. Mau naik Transjakarta ya dapet koridor yang ngenakeun. Mau naik transportasi online ga terlalu nyekek bayarnya. Mau ke BSD, Bintaro, Depok, Bekasi, ya tinggal ke stasiun Sudirman/Tebet/Manggarai/Palmerah. Mau ngemol ya tinggal pilih aja, minggu ini ke Lotte Avenue, minggu depan ke Kokas, minggu depannya lagi ke GI, akhir bulan nonton aja di Setiabudi One HAHAHAH. Ke kosan adek, ke rumah bude, ke rumah uwa ga berasa jauh banget lah.

Memang waktu awal pindah ke Kuningan, saya sempet ngomel karna harga kosan yang supermahal dibandingkan dengan waktu di Cilandak. Cuma ya, I just need to adapt, and it’s not a big matter to me, I was born to adapt haha. Eh lalu ya harus cari kosan lagi di Cilandak.

Proses pencarian kosan ini juga full deramak banget lah. Dari si bos yang mendadak kasih info soal penempatan di site area Sudirman yang sebetulnya belum jelas kepastiannya, bikin saya maju mundur mau cari kosan. Tadinya cuma half-time ngantor di kantor klien, jadi full time service, eh jadi half-time lagi eh trus udah ga tau gimana nasib itu project sekarang. Baru mulai cari kosan awal bulan Oktober, karena bulan September harus rushing kerjaan gara-gara si bos mau caw.

Memasuki bulan Oktober, pas weekdays saya harus bolak-balik kantor klien di dua minggu pertama dan ada deadline BQ. Di sela-sela itu saya harus nyicil packing dokumen-dokumen di meja, pilah pilih mana yang mau disimpan di storage, dibuang, atau dibawa ke kantor baru. Tiap hari Jumat jadi ada jadwal cleaning. Kantor udah macam kapal pecah; mulai dari bongkar partisi, pintu-pintu kaca, meja kaca, dan benda-benda lain yang mau dipasangin di kantor baru ditambah kardus-kardus yang bertebaran di tiap sudut workstations. Ruang meeting tau-tau udah mak blong, ga berpintu dan tengsin wa kalo meeting di situ. Ketauan cuma ngerumpi bukannya diskusi hahahah.

Lalu drama kosan. Jadi ceritanya di minggu pertama Oktober itu saya udah nemu kosan yang cocok. Harga cocok, isi cocok, fasilitas cocok. Tapi ga cocok sama yang punya. Pas saya tengokin sih kamar kosong ada dua, tipenya sama. Saya hubungi pemiliknya bilang mau ambil satu, tapi masuknya baru akhir bulan Oktober. Beliau ga mau dipanjerin dulu karena dia juga pakai kamarnya buat RedDoorz. Ga masalah sih saya sebetulnya, ASAL pas saya mau masuk kamarnya ready.

Seminggu kemudian, saya datang lagi dan kamarnya ternyata tinggal satu. Wah, harus gercep nih. Lagi-lagi ga mau dipanjerin, tapi dia meyakinkan bahwa nanti pas tgl 28/29 (tanggal pindahan kantor sudah diumumkan pas ini) pasti ada kamar buat saya. Saya kekeuh saya maunya kamar yang itu, ga mau yang lain apalagi yang lebih kecil. Yaudah saya pulang.

Besokannya karna kok ngerasa ada yang ganjel, saya telponin lagi eh tau-tau si ibu yang punya bilang tgl 28/29 udah ada orang yang mau booking buat sebulan, dan status kosannya jadi penuh. LHOH PIYE NASIBKU. Dia tawarin di bangunan baru yang jadi aja belom, dan bilang kamarnya lebih kecil, wah saya muntab. Saya omel-omelinlah kalau saya ga mau kamar yang lebih kecil, wong saya udah bilang maunya yang kemaren saya lihat. Saya kan udah bilang ke ibu dari lama, kalau mau sewain harian silakan, TAPI PAS SAYA MASUK YA READY.

Mungkin dia maunya saya bayar full, tapi ya ga mungkin lah. Wong pertengahan bulan saya harus bayar kos yang di Setiabudi (karna masih ngantor di Setiabudi). Yang di Setiabudi juga ga mau dibayar cuma dua minggu. Tetep dihitung sebulan. Heleeee jadi drama begini.

Karna batal, mau ga mau saya mesti cari lagi. Ya Allah, kok gini amat cobaan hidup ya. Belum lagi standar kosan saya jadi naik lagi. Saya lagi muak sama kamar 3×3, maunya yang luas dan besar. Kalo bisa di dalam rumah, biar punya ruang tengah. Tadinya mau ngontrak, tapi kok ya budget saya ga cocok sama jenis kontrakan yang saya mau (alias pengene omah townhouse, tapi duite ming cukup nggo petakan hahahah). Belum lagi perkara biaya listrik, air, internet dan ngisi rumah, ah kok malah tambah repot, waktunya ga ada.

Hidup di Jakarta gini amat ya…

Alhamdulillah malah ketemu kosan yang di dalam rumah, seperti yang saya emang pengenin. Rumah besar di komplek instansi dengan kamar-kamar di lantai dua yang disewakan. Saya bebas pakai ruang tengah (ada meja makannya juga!) dan ada balkonnya. Pas masuk itu mengingatkan saya sama rumah bude di Rawamangun. Harga ya oke lah, sama kayak kos inceran pertama dengan fasilitas sama ditambah bonus ruang tengah dan balkon bahahahah. Lokasi juga ga jauh dari kantor baru meskipun ditempuh jalan kaki jadi gempor juga. Ada angkot, atau ntar beli sepeda lah (wacana ket kapan emboh ra sido-sido).

Kelar urusan kosan, maka selanjutnya adalah menuntaskan packing! Adapun kegiatan yang paling saya benci pas pindahan adalah packing dan unpacking. Mana ini packingnya dobel-dobel, di kantor dan kosan juga.

Hari ini adalah hari terakhir ngantor di Setiabudi Atrium dengan agenda full packing dan beres-beres. Sedih ugha ya berpisah sama kantor ini. Walaupun baru satu setengah tahunan (dibanding yang lain, rata-rata udah 4 tahunan sejak awal pindah ke Setiabudi) ya (((karir))) wa di perusahaan ini kan dimulai di situ. Lagian wa ngekos di Setiabudi udah dari 2014. Waks, tiga tahun yang memorinya terlalu banyak.

Well, I gotta step forward. Mudah-mudahan betah di kantor baru dan kosan baru!

Oke, mari lanjutkan nyicil beresin dan packing barang-barang buat dibawa ke kosan baru yang mana progresnya masih 20an persen.