Dua Bulan Karantina

Sudah dua bulan sejak mulai karantina pertengahan Maret lalu. Sudah mulai terbiasa dengan rutinitas selama karantina.

Frekuensi saya keluar rumah makin berkurang. Kalau bulan pertama, seminggu sekali, di bulan ini hanya dua minggu sekali. Bulan puasa juga sih, saya off jalan kaki keliling sekitar rumah dulu. Pilih indoor exercise (yang mana juga jarang dilakukan, banyakan tidur bahahahah).

Ramadan tahun ini rasanya saya kok sering sekali mengantuk. Apakah karena WFH dan kasur hanya dua langkah dari meja kerja? Kalau di tahun-tahun sebelumnya saya jarang mengantuk setelah Subuh, kali ini beneran setiap hari saya selalu mengantuk dan habis Subuh memilih tidur lagi daripada tadarus (prek banget). Tarawih di rumah saja sih sudah sering (sejak pindah Jakarta, saya lebih sering tarawih sendiri karena masjid sekitar tempat tinggal pasti tarawihnya yang 23 rakaat terus hahahah).

Continue reading Dua Bulan Karantina

Sebuah Kenyamanan di dalam Martabak Mie Telur

Sepanjang masa isolasi/karantina ini, sepertinya skill memasak orang-orang mulai meningkat. Banyak di rumah, demi menekan pengeluaran dan meningkatkan imunitas, masak sendiri pasti diutamakan. Tak terkecuali saya (meskipun di saya banyakan kasih-duit-belanja-dan-minta-tolong-masakin-mbak-di-rumah-nya).

Untuk urusan dapur, saya sebetulnya bukan tidak bisa memasak. Bisa, tapi banyakan malasnya. Dari kecil sudah disuruh bantuin ibu di dapur, membuat saya sering mengamati beliau, meskipun yah pada akhirnya skill saya belum secanggih beliau karena saya anaknya ga mau ribet (lagi-lagi maksudnya malas).

Masakan saya berputar-putar di area di mana saya nyaman masaknya dan makannya. Nyaman ini maksudnya: ga menggerutu menyiapkan bahan-bahannya (motong-motong sayur dan bawang itu pekerjaan terapeutic tapi tetep, kalau lagi malas ya malas saja), ga menggerutu memasaknya, ga menggerutu pas makan (Bagi saya, masakan saya selalu enak. Ya kalo ga enak pun tetep harus saya habiskan), dan ga menggerutu pas kelar makan dan membereskan semua peralatan perang. Oleh karena itu, bahan-bahan utama masakan saya ga jauh-jauh dari telur, mie, dan pasta.

Continue reading Sebuah Kenyamanan di dalam Martabak Mie Telur

Empat Minggu Karantina

Lebih tepatnya, memasuki minggu kelima karantina.

January and February was bearable despite flaws here and there, but March was hard, embuh banget lah. I thought everything will be better entering the Q2, turns out it’s getting more and more uncertain.

Sabtu tanggal 14 Maret adalah hari terakhir saya bertemu Riris, adik saya. Kami janjian bertemu di Holygyu, Kebon Jeruk (adik saya tinggal di Kebon Jeruk) untuk makan siang bareng. Kemudian kami ke Gandaria City dan menonton film Onwards (yang setengah jam pertamanya saya ketiduran tapi filmnya bagus kok), liat-liat bermacam barang, jajan lucu (lupa jajan apaan), mengobrol panjang lebar berbagai topik mulai dari tentu saja Coronavirus, kerjaan, teman, keluarga, sampai julidin orang sekitar kami. Saat itu mal lumayan sepi sekitar jam 1 siang, tapi selesai menonton film, menjadi sangat ramai. Kami pun berpisah dan pulang ke tempat tinggal masing-masing sekitar jam 4-5 sore. Sudah sebulan sejak saya terakhir bertemu dengan adik saya, padahal kami tinggal di kota yang sama.

Continue reading Empat Minggu Karantina