Lima Bulan Karantina

17 Agustus 2020. Genap lima bulan masa karantina.

Sudah lelah lihat kelakuan pemerintah dan orang-orang. Salut sama mas mbak bapak ibu tenaga kesehatan, bapak ibu mbak mas juru wabah, mas mbak bapak ibu jurnalis yang masih sabar menghadapi mereka semua. Semoga kalian semua selalu sehat jiwa dan raga. Jalan masih panjang. Doa saya untuk kalian dan orang-orang tersayang.

Saya masih WFH dan sudah deklarasi ke atasan dan klien mungkin akan WFH forever, sampai saya bisa divaksin. Tidak peduli omongan-omongan dan asumsi-asumsi orang. I’d do what I think is safe and convenient for everyone, you do you. Well, I’m difficult most times but there’s also times I compromise, so I’d probably once in a while pop-up in the office for very important and urgent things. But anything I can do remotely, I’d definitely do it remotely.

Continue reading Lima Bulan Karantina

Empat Minggu Karantina

Lebih tepatnya, memasuki minggu kelima karantina.

January and February was bearable despite flaws here and there, but March was hard, embuh banget lah. I thought everything will be better entering the Q2, turns out it’s getting more and more uncertain.

Sabtu tanggal 14 Maret adalah hari terakhir saya bertemu Riris, adik saya. Kami janjian bertemu di Holygyu, Kebon Jeruk (adik saya tinggal di Kebon Jeruk) untuk makan siang bareng. Kemudian kami ke Gandaria City dan menonton film Onwards (yang setengah jam pertamanya saya ketiduran tapi filmnya bagus kok), liat-liat bermacam barang, jajan lucu (lupa jajan apaan), mengobrol panjang lebar berbagai topik mulai dari tentu saja Coronavirus, kerjaan, teman, keluarga, sampai julidin orang sekitar kami. Saat itu mal lumayan sepi sekitar jam 1 siang, tapi selesai menonton film, menjadi sangat ramai. Kami pun berpisah dan pulang ke tempat tinggal masing-masing sekitar jam 4-5 sore. Sudah sebulan sejak saya terakhir bertemu dengan adik saya, padahal kami tinggal di kota yang sama.

Continue reading Empat Minggu Karantina

The Third Year

Five days ago marked up my third year working with this firm. The longest employment during my career life.

Strange thing: I don’t have the urge to look up for new job at the moment. HAHAHAH. Biasanya, memasuki tahun kedua saya udah cari-cari kerjaan baru lagi dan mulai curi-curi waktu pergi interview.

Apakah ini karena masbos muda yang usianya hanya terpaut 10 tahun dengan saya? Bisa jadi.

Apakah pekerjaannya jadi lebih menyenangkan? TENTU SAJA TIDAK. Kadang ya saya bingung apakah saya benar-benar mencintai pekerjaan ini karena kerjaannya, atau karena gajinya, atau karena lingkungannya, atau karena masnya.

Apakah penghargaannya jadi lebih baik? Engga juga ah, bonus mana bonus. #eh

Continue reading The Third Year