Murjangkung

Biar trendi lagi, mari kita bikin postingan ‘first (something) in 2014’.

First book I finished in 2014, yet last book I bought in 2013. Here it is.

Belakangan memang agak sulit nyari buku yang tidak kacrut terbitan lokal. Murjangkung bukan buku kacrut (walaupun diterbitkan oleh penerbit yang biasa menerbitkan buku-buku kacrut), tapi tidak bisa dibilang spesial juga.

My rating.

Week… I don’t know, I lost numbers.

HALAW! saya memang kemarin-kemarin itu lagi malas ngeblog di sini. zuper malaz. sekarang pun sebenarnya malaz.

jadi saya menangguhkan Dexter terlebih dahulu karena tergoda oleh Kicau Kacau-nya Indra Herlambang. ngikngekngok. gampang amat sih saya ini terdistraksi.

ini juga… belom selesai, dikiiitttt lagi. duh, saya ini sekarang gampang banget terdistraksi. biasanya saya bisa mojok diem di dalem transjogja baca buku dan menghiraukan orang-orang, sekarang entah kenapa orang-orang begitu menariknya di mata saya, maka jadilah saya mengamati mereka dan membuat asumsi-asumsi di pikiran saya.

si Kicau Kacau ini dapetnya juga agak sedikit pake perjuangan. perjuangan (si mas-masnya Toga Mas sih, bukan saya) mencari bukunya di gudang mereka. lah di komputernya bilang ada dua, di section “Buku Terbaru” tapi gue muter-muter kelilingin itu section yang hanya terdiri dari hamparan papan seluas 1 x 1 meter, tetep ga ada.

dan nemu sodara! tinggal satu-satunya ternyata. so far so great. I tell it here. *see, males ngeblog kan eke bok* yang gue ga suka cuma… taglinenya. Curahan Hati Penulis Galau. seriously, keliatan banget ini pengen menarik perhatian abege-abege (sorry, just my assumption). IMO, akan lebih sedikit naik kelas bukunya jika diberi tagline yang agak berbobot juga. buat gue, taglinenya sama sekali tidak catchy. demikian.

selanjutnya… mari bersama-sama mendoakan saya supaya berhasrat menyelesaikan dua-tiga buku yg menumpuk di rak –‘

Week #6 & #7

HEY! lack of post again. sorry. I’m not really in the mood of blogging.

so, two weeks ago, I bumped into a Gramedia stand at Pameran Komputer dan menemukan tumpukan buku-buku terbitan agak lama, yang dibanderol seharga 10 ribu rupiah saja sebuah!

biasanya, saya tidak terlalu tertarik sama yang beginian. saya biasanya mikir, yea, bukunya biasanya jelek-jelek, ga menarik, dan… ya pokoknya sepuluh ribu memang worth it. tapi, anehnya entah dorongan dari mana, saya ikutan juga ngubek-ngubek tumpukan buku-buku tersebut dan menemukan tiga buah buku yang kalo dipikir-pikir lumayan, menurut saya. satu buah teenlit (YEA, it’s teenlit, but we’re going to talk about that teenlit), sebuah chicklit yang lumayan tebal (yah, sepuluh ribu untuk sebuah novel yang agak tebal. kapan lagi?), dan satu metropop karangan Alberthiene Endah.

bungkus, 30 ribu! lalu, saya jadi ketagihan berburu buku murah. kemudian, saya ingat di depan Gramedia Sudirman ada pojok buku murah juga. serbu! dan siapa sangka saya menemukan novella Dexter seri ketiga seharga 20 ribu. BUNGKUS! lima puluh ribu sudah dapat empat buah buku. KAPAN LAGI? biasanya untuk satu buah buku saja saya harus mengeluarkan empat puluh ribu rupiah. blom kalo bukunya tebal kayak The Tourist, bisa sampai 60 ribuan. baru satu biji. ini lima puluh ribu saya dapat empat. best deal.

separonya sudah saya baca. Dicintai Jo (Alberthiene Endah) dan Saving Fransesca (the teenlit, yea). dua-duanya oke! bisa liat reviewnya di Goodreads. told ya I’m not really in the mood of blogging. lainnya, saya baca komik berjudul Smile, Himiko! seri satu sampai tiga (tamat). lagi-lagi tipikal komik cinta berseri lainnya, happy ending. tapi jalan ceritanya saya seneng sih bwahahahahah. sayang, ga ada pagenya di Goodreads. jadi ga bisa masukin reviewnya. kapan-kapan aja deh.

demikian. sekarang saya lagi berusaha menyelesaikan Dexter in The Dark dan Hissy Fit (the chicklit).