disclaimer: ini bener-bener curhatan! kalo ga mau kecewa gara-gara keluhan saya yg mungkin terdengar sangat childish dan ih-plis-deh-lo, mending ga usah dibaca. atau mungkin ada yg tersinggung, saya mohon maaf, karna ini bener-bener lagi curhat. thank you.

sebagai teman, saya senang kalau kamu punya berita gembira.

saya turut senang kalau kamu senang.

tapi, saya akan lebih senang lagi kalau kamu mau berbagi kesenanganmu dengan saya.

sama halnya dengan, ketika kamu sedih atau susah, saya siap mendengar semua keluhan dan ceritamu, kebimbanganmu. menjadi pendengar setia. dan membantu sebisa saya, apapun kesusahanmu.

tapi, sampaikanlah semua itu secara jelas! jangan setengah-setengah, sok menyembunyikan berita. haduh, berasa seleb aja sih lo apa-apa serba diumpetin. wait, mending diumpetin ya, jadinya ga tau sama sekali.

lah ini, menyampaikan sesuatu setengah-setengah, separo-separo. bikin orang bertanya-tanya, maksut dari sekian banyak status implisit kamu itu. you know what, kayak gini malah bisa memicu gosip.

yeah, I’m talking about some friends of mine yang suka bikin status-status implisit. seperti hendak berbagi tapi waktu ditanya (dan biasanya sih saya nanyainnya offline atau di luar dari social media, ga ikut-ikutan berkomentar di lapak social media dia), jawabannya seperti menyembunyikan sesuatu. like ‘ada deeeehhh’, ‘ra-ha-si-a’. I really hate that kind of answers.

please, I know you for years, not yesterday afternoon. sepertinya pepatah ini memang benar: Twitter (dan social media lainnya), menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh.

oh crap. I should stop keeping my eyes on the screen. it makes me look at all these implisit statuses. and complaining like this. get your butt off the chair!

gambar dicolong tanpa ijin dari sana.

PS: Subtle = misterius, tersembunyi, tersirat. uhuy, malah dapet vocab baru hahahah :p