Membaca novel dengan genre Metropop ini semacam apa ya… guilty pleasure? Ah engga sih, saya ga merasa bersalah tiap baca genre ini. Cukup pleased setiap baca ini tanpa tambahan merasa bersalah. Cukup puas dengan jalan cerita yang klise, ending yang gampang ditebak, konflik yang juga gampang ditebak. Walau kadang suka ngelempar novel yang banyak typo, diksi tidak menarik, dan kalimat yang belepotan. Yang bikin saya masih betah untuk baca Metropop (sampai kadang saya menyediakan waktu dan budget tertentu karna emang kepengen cari Metropop), mungkin lebih ke penokohan karakter kali ya. Contoh aja nih, bagi saya Sophie Kinsella itu jenius. Dia bisa bikin novel chicklits (ChicklitsRead More →

Alkisah di sebuah restoran di Setiabudi, Jakarta Selatan, tujuh muda-mudi sedang berkumpul. Sebagian piring dan gelas sudah kosong. Ada beberapa piring yang masih berisi segunduk entah itu steak dan kentang goreng atau chicken cordon bleu dan sayuran. Sepertinya tidak ada yang berniat untuk menghabiskannya. Dibiarkan begitu saja sampai diambil pelayan. Dua laki-laki berkacamata yang duduk di paling ujung meja sepertinya baru saja mengabadikan momen kebersamaan mereka malam itu ke dalam gambar menggunakan ponsel.Read More →